GUNUNG SALAK (2211 mdpl)

Posted: April 14, 2010 in 1

KUIL DI KAKI GUNUNG SALAK



Di kaki gunung salak, Kabupaten Bogor, ada kuil Hindu. Orang menamakannya sebagai kuil Prabu Siliwangi. Mengapa begitu sebab orang hindu dari bali sengaja membangun kuil itu sebagai penghormatan kepada Prabu Siliwangi, Raja Pajajaran yang dianggap telah berjasa mengembangkan agama hindu. Terlepas dari perbedaan anggapan, apakah benar Prabu Siliwangi beragama hindu atau bukan, yang jelas, begitulah yang dikatakan I nyoman Radeg, pendeta hindu yang bertanggung jawab sehari-hari di kuil itu.

Penyebab kuil itu dibangun di kaki gunung Salak, tepatnya di kampung warunglobok, Bogor adalah karena di tempat itu dianggap punya kekuatan magis. Nyoman radeg ,mengatakan, bahwa secara gaib, tergambarkan di tempat itu dulu berdiri sebuah bangunan kuil. Bentuknya seperti yang kini berdiri di kaki bukit itu. “Bentuk kuil itu kerap terbawa mimpi. Maka kami bikin kuil disini dengan arsitektur persis sperti di dalam mimpi,” demikian tutur nyoman radeg.

Sebagai seorang yang percaya pada keberadaan kekuatan mistis, Nyoman radeg bila di tengah sepinya malam dengan bintang-gemintang menerangi jagat raya suka duduk sendiri menyepi, di pelataran kuil. Mengapa kerap duduk menyepi di sana? Sebab pada waktu-waktu tertentu, dia kerap di datangi arwah Prabu Siliwangi. Suatu saat Nyoman didatangi seorang pemuda usia 16 atau 17 tahunan dengan penampilan seperti ksatria tempo dulu. Siapakah anda anak muda yang datang secara misterius itu? Sang pemuda asing menyebut dirinya dengan nama Pamanahrasa. Namun suatu waktu Nyoman pun didatangi seorang berpenampilan gagah dan memakai ornamen laiknya seorang raja. Usianya berkisar antara 50 atau 55 tahunan. “Siapakah anda yang berpenampilan seperti raja ini?” tanya Nyoman radeg kepada tamu asingnya itu. “Sayalah Sri Baduga Maharaja!” tutur lelaki berpenampilan gagah dengan alistebal hidung mancung itu.

Nyoman radeg tidak hapal, siapa Pamanahrasa dan siapa pula Baduga Maharaja. Namun manakala dia bertanya kesana-kemari di Bogor dan sekitarnya, Nyoman sungguh terkejut. Pamanahrasa itu menurut ahli di Bogor, ternyata adalah Sri Baduga Maharaja Siliwangi manakala masih muda. “Sementara Sri Baduga Maharaja adalah raja pertama kerajaan Pajajaran. Dan dialah yang dikenal sebagai Prabu Siliwangi.” Tutur Nyoman radeg. Maka untuk hari-hari selanjutnya, Nyoman kerap duduk menyepi sendirian di pelataran kuil Prabu Siliwamgi.

Tidak setiap saat memang mangalami hal-hal gaib. Ada kalanya tidak terjadi hal-hal aneh. Adakalanya hanya terbersit cahaya putih dari langit dan jatuh di altar kuil. “Namun adakalanya menyaksikan tontonan yang spektakuler,”tutur Nyoman radeg yang membuat misteri penasaran. Apakah itu? Nyoman berkata bahwa suatu saat di altar kuil terlihat ksatria Pamanahrasa sedang duduk di sana dikelilingi oleh para puteri ayu. Namun suatu saat adegan itu terulang kembali. Hanya saja yang sikelilingi putri ayu adalah Prabu Siliwangi yang duduk di singgasana. Denikian Nyoman radeg.

Kata Nyoman ada amanat dari Prabu Siliwangi yang dia tidak boleh lupa. Apakah itu ? “Beliau memberikan amanat pada saya, bahwa seluruh keturunannya jangan dilarang bila ingin datang ke kuil ini, apapun agama dan keyakinannya,” kata Nyoman radeg. Apakah itu karena himbauan Prabu Siliwangi atau bukan, yang jelas setiap hari minggu ke bukit itu banyak orang datang terdiri dari berbagai agama dan keyakinan. “Tidak semua bermaksud ingin menghormati Prabu Siliwangi, Bahkan yang hanya datang karena berwista pun kami tak larang.” Ulas Nyoman radeg.

Sumber: Majalah Misteri september 2001

GUNUNG SALAK 1


Awal September 2005 Steve, Sigit, Hari, dan Wogo melakukan pendakian Gunung Salak. Jalur yang ditempuh adalah jalur Girijaya dan Jalur Kutajaya (Cimelati). Di puncak rombongan berjumpa dengan Budi Mulyana dan rekan-rekan yang melakukan pendakian lewat jalur Cidahu. Gunung Salak memiliki banyak puncak di antaranya puncak Salak 1 dengan ketinggian 2.211 mdpl.

Gunung Salak sejak jaman dahulu sudah sering dikunjungi oleh para pejiarah, dahulu terdapat patung pemujaan di puncak gunung Salak. Terdapat juga makam Embah Gunung Salak yang sering dikunjungi para pejiarah.  Di kaki Gunung Salak banyak terdapat tempat-tempat keramat, makam keramat ada juga pura dengan sebutan Kuil Prabu Siliwangi .  Pendakian terbaik dilakukan pada musim kemarau, karena pada musim penghujan jalur menjadi becek seperti rawa, licin sekali dan banyak lintah. Selain itu angin seringkali bertiup kencang.

Gunung ini dapat didaki dari beberapa jalur diantaranya jalur yang umum sering dipakai adalah jalur dari Wana Wisata Cangkuang Kecamatan Cidahu Kabupaten Sukabumi, dari Cangkuang ini ada dua jalur yakni jalur lama yang menuju puncak Gunung Salak 1 dan jalur baru yang menuju Kawah Ratu. Jalur yang penuh dengan nuansa mistik untuk berjiarah adalah jalur dari Wana Wisata Curug Pilung, Desa Giri Jaya, Kecamatan Cidahu, Desa Kutajaya / Cimelati.

JALUR CANGKUANG CIDAHU

Wana Wisata Cangkuang Cidahu ini selain menjadi tempat perkemahan dengan pemandangan air terjun yang indah, sering digunakan para pengunjung untuk menuju ke Kawah Ratu. Dari Jalur ini pendaki juga dapat menuju ke puncak gunung Salak I. Dari Jakarta kita dapat menggunakan bus jurusan Sukabumi atau kereta api dari Bogor jurusan Sukabumi turun di Cicurug. Selanjutnya dari Cicurug disambung dengan mobil angkot jurusan Cidahu.

Di sekitar pintu masuk Wana Wisata ini terdapat tempat-tempat yang nyaman untuk berkemah, juga banyak terdapat warung-warung makanan. Untuk menuju ke air terjun kita harus turun ke bawah dari MCK di dekat pintu masuk pendaftaran. Untuk menuju ke Kawah Ratu diperlukan waktu sekitar 3-5 jam perjalanan, sedangkan untuk menuju ke puncak Gunung Salak I diperlukan waktu sekitar 8 jam. Dari Bumi perkemahan menuju Shelter I Jalur awal curam berupa batu-batuan yang ditata rapi. Kita mulai memasuki kawasan hutan tropis yang lebat dengan pohon-pohon yang besar, sekitar 1/2 jam kemudian kita akan menempuh jalur yang berfariasi, datar, naik dan turun.

Menuju Shelter II jalur mulai lembab dan basah, dimusim penghujan banyak terdapat pacet.  Beberapa sungai kecil akan kita lewati, namun bila musim kemarau sungai ini akan kering. Kita akan menyusuri jalur yang banyak ditumbuhi pohon-pohon pisang, namun jangan berharap menemukan buah pisang yang matang karena daerah ini banyak di huni monyet. Bila hari menjelang sore kita akan menyaksikan monyet-monyet bergelantungan di sarang mereka disekitar jalur ini.

Di Shelter II ini terdapat tempat yang cukup luas untuk mendirikan tenda, dengan pemandangan hutan tropis yang masih lebat. Di dekat Shelter II ini terdapat sungai yang kering pada saat musim kemarau.

Menuju Shelter III kita akan melewati jalan-jalan yang becek dan berlumpur dan banyak pacet terutama di musim hujan. Bahkan Di beberapa tempat jalur berupa tanah licin yang curam, namun kita masih agak tertolong adanya akar-akar pohon. Shelter III tempatnya luas dan terdapat sungai yang jernih, di tempat ini pendaki dapat mendirikan tenda.

Untuk menuju Shelter IV jalur semakin curam terutama di musim hujan licin sekali karena berupa tanah merah. Di beberapa tempat kita akan melewati tempat-tempat becek yang kadang kedalamannya mencapai dengkul kaki. Jalur akan semakin parah pada saat musim hujan dan banyak sekali pacet. Kita akan melewati dua buah sungai yang jernih airnya, sebaiknya kita mengambil air bersih disini karena disini lah sumber air bersih terakhir terutama di musim kemarau. Shelter IV berupa persimpangan jalan, untuk menuju ke Kawah Ratu ambil jalan ke kiri, sedangkan untuk menuju ke puncak Gunung Salak ambil jalur ke kanan. Di shelter IV yang cukup luas ini pendaki juga dapat mendirikan tenda. Di sebelah kanan shelter IV terdapat sungai kecil yang kering dimusim kemarau.

MENUJU KAWAH RATU

Dari Shelter IV masih diperlukan waktu sekitar 1 jam untuk menuju Kawah Ratu. Kawah ini terdiri 3 kawah; Kawah Ratu (paling besar), Kawah Paeh (kawah mati), Kawah Hurip (kawah hidup). Kawah Ratu termasuk kawah aktif dan secara berkala mengeluarkan gas berbau belerang.

Dianjurkan agar berhati -hati setibanya di kawasan Kawah Ratu, perhatikan jalan yang dilalui. Di kiri-kanan tampak letupan -letupan kecil kawah aktif yang bersuhu sangat panas. Kawah ratu berupa sungai dengan batu-batuan belerang yang menghasilkan panas, air yang mengalir terasa hangat ada juga yang sangat panas. Banyak wisatawan baik tua maupun anak-anak datang ketempat ini untuk mandi dan melumuri badan dengan belerang yang berkasiat menghilangkan penyakit kulit maupun memutihkan badan. Sebaiknya kita tidak berlama-lama di Kawah Ratu terutama di musim penghujan. Dilarang mendirikan tenda di Kawah Ratu dan tidak minum air Kawah Ratu yang sudah bercampur dengan air belerang.

MENUJU PUNCAK GUNUNG SALAK

Dari Shelter IV kita berbelok ke kanan setelah melewati sungai kecil kita akan bertemu dengan jalur lama di sebuah tempat yang agak luas. Untuk menuju ke puncak kita berjalan ke kiri mengikuti pagar kawat berduri. Jalur agak landai menyusuri punggung gunung yang becek dan di selimuti hutan lebat. Di sisi kiri dan kanan jalur ini banyak ditumbuhi pohon pandan yang daunnya berduri tajam menghalangi jalan, sehingga kita perlu agak hati-hati.

Di musim penghujan jalur ini sangat becek seperti rawa-rawa dan banyak pacet/lintah. Berhubung jalur ini jarang dilalui dan seringkali hilang tertutup pohon dan rumput sebaiknya membawa golok untuk membuka jalur. Setelah 1 jam melintasi rawa-rawa Jalur semakin curam melintasi akar-akar pohon dan bebatuan menyusuri sisi tebing yang sangat berbahaya. Jalur kadang sedikit menurun, agak landai, kemudian kembali menanjak tajam. 1 jam kemudian kita akan sampai di  Shelter 3 jalur lama.

Dari Shelter 3 menuju Shelter 4 kita membutuhkan waktu sekitar 1 jam dengan melintasi akar-akar pohon, yang tertutup tanah lunak sehingga kaki bisa kejeblos. Bila angin bertiup kencang maka pohon-pohon akan bergoyang dan tanah yang kita injak pun akan bergoyang. Dari tempat ini kita dapat melihat Kawah Ratu dengan sangat jelas. Di sekitar daerah ini kadangkala kita akan mencium bau belerang yang berasal dari Kawah.

Jalur ini sangat sempit dengan sisi kiri kanan berupa jurang yang curam dan dalam. Jalur berfariasi sedikit turunan kemudian sedikit landai, lalu kita mulai mendaki punggung yang curam kembali. Shelter IV ada sedikit ruang untuk mendirikan 1 buah tenda kecil dengan sisi kanan berupa jurang. Bau belerang yang berasal dari Kawah Ratu kadang tercium ketika angin bertiup ke arah puncak gunung.

Sekitar 1 jam menuju Shelter 5 jalur sedikit menurun kemudian kembali menanjak tajam, menyusuri punggung gunung di antara akar-akar pohon-pohon. Kemudian kita akan memanjat tebing batu curam, kedua tangan kita harus mencari pegangan batu, sehingga semua barang bawaan harus diikat atau dimasukkan kedalam tas. Di Shelter 5 pendaki dapat mendirikan tenda, tempat ini agak luas sehingga bisa digunakan untuk mendirikan beberapa tenda.

Menuju Shelter 6 memerlukan waktu sekitar 1 Jam Jalur semakin curam dan berbahaya, jalur begitu sempit sehingga tidak ada tempat untuk beristirahat.  Menuju Shelter 7 jalur semakin curam dan berbahaya kita perlu waktu sekitar 1 jam untuk mendaki punggung gunung yang semakin menanjak. Jalur kebanyakan melintasi akar-akar pohon sehingga bila angin bertipu kencang kita pun akan bergoyang-goyang sehingga menggetarkan jantung.

Di shelter 7 ini terdapat percabangan jalur yakni pertemuan dengan jalur pendakian yang berasal dari Girijaya. Dari Shelter 7 kita hanya tinggal membutuhkan waktu sekitar 10 menit untuk menuju puncak gunung Salak I, jalur sudah tidak terlalu curam lagi, masih melintasi akar-akar pohon dan batu-batuan berselimut tanah gembur.

Puncak gunung Salak I masih banyak ditumbuhi pohon-pohon besar, tempat ini sangat luas dapat digunakan untuk mendirikan beberapa tenda. Terdapat beberapa makam kuno salah satunya makam Embah Gunung Salak. Terdapat juga sebuah pondok untuk beristirahat bagi para pejiarah, Air hujan dari pondok ini ditampung dalam sebuah bak penampungan, sehingga dapat digunakan oleh para pendaki dan para pejiarah. Angin kencang sering bertiup, terutama di musim penghujan.

Untuk mendaki gunung Salak sebaiknya dilakukan pada pertengahan musim kemarau, biasanya jalur tidak terlalu becek, kemungkinan hujan tidak turun, tidak ada pacet / lintah, angin tidak terlalu kencang. Di musim penghujan jalur tertutup tanaman harus membawa golok untuk membuka jalur terutama alang-alang dan daun pandan yang berduri tajam. Lakukan pendakian pada siang hari karena pendakian di malam hari sangat berbahaya berhubung banyaknya jalur-jalur yang sempit menyusuri jurang, juga banyaknya jalur yang memerlukan bantuan kedua tangan kita untuk berpegangan sehingga sulit memegang lampu senter.

JALUR CANGKUANG CIDAHU

Rute Keterangan
1 Wanawisata Cangkuang Cidahu Angkutan umum dari pasar Cicurug
2 Shelter 1 ( Jalur Baru )
3 Shelter 2 ( Jalur Baru )
4 Shelter 3 ( Jalur Baru ) tempat berkemah, ada sungai
5 Shelter 4 ( Jalur Baru ) tempat berkemah, ada sungai kecil
6 Persimpangan Pertemuan 4 jalur dari Cangkuang, Javana Spa, Kawah Ratu, Jalur Ke Puncak
7 Shelter III ( Jalur Lama )
8 Shelter IV ( Jalur Lama )
9 Shelter V ( Jalur Lama )
10 Shelter VI ( Jalur Lama )
11 Shelter VII ( Jalur Lama ) Pertemuan dengan Jaur Girijaya
12 Puncak Gunung Salak I

JALUR GIRI JAYA ( CURUG PILUNG )

Untuk menuju puncak Gunung Salak pendaki dapat melalui Jalur Giri Jaya dengan waktu tempuh sekitar 5 – 8 jam perjalanan. Jalur ini tepatnya berada di  Wana Wisata Curug Pilung, Desa Giri Jaya, Kecamatan Cidahu, Kabupaten Sukabumi.

Untuk menuju desa Giri Jaya dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan Ojek dari Cicurug dengan ongkos sekitar Rp. 15.000,- Atau pendaki dapat berjalan kaki dengan waktu tempuh sekitar 3,5 jam perjalanan. Tidak ada kendaraan umum yang menuju Giri Jaya sehingga tempat ini tidak begitu dikenal. Namun angkutan umum seringkali dicarter untuk mengantarkan para pejiarah. Pendaki dapat mencarter angkutan umum dari pasar Cicurug dengan tarif sekitar Rp.70.000,- sebelumnya harus ditanyakan dahulu kepada sopirnya apakah pernah mengantar ke Kompleks makam Eyang Santri Girijaya.

Sesampainya kita di pintu masuk Wana Wisata Curug Pilung, dengan berjalan kaki beberapa meter kita akan melihat gapura pintu masuk Pasareyan Eyang Santri. Kita akan melewati kompleks makam yang penuh suasana magis. Jalan setapak di kompleks  Pasareyan Eyang Santri sangat bersih dan rapi. Makam keramat ini seringkali dikunjungi oleh para pejiarah dari luar Sukabumi.

Dari kompleks pasareyan Eyang Santri kita berjalan melalui rumah-rumah penduduk, kemudian akan sampai di kebun-kebun penduduk. Setelah berjalan sekitar 15 menit kita akan sampai disebuah tempat yang sering digunakan Eyang Santri untuk bertapa. Di pertapaan ini terdapat MCK, pendaki harus mengambil air bersih disini karena selebihnya hingga mencapai puncak tidak terdapat mata air. Terdapat Air terjun yang sangat indah di bawah pertapaan Eyang Santri, air terjun Curug pilung di atasnya lebar seperti danau, baru airnya tumpah membentuk air terjun. Para pendaki yang berkemah di sekitar tempat ini harus berhati-hati, karena sering diganggu oleh babi hutan. Biasanya para pendaki menginap di Pondok Pak Irwan. Pak Irwan sangat baik banyak membantu para pendaki yang kesasar turun melalui jalur ini setelah mendaki Gunung Salak.

Dari Pertapaan Eyang Santri jalur masih agak landai melewati pohon-pohon damar yang masih pendek, di siang hari sangat panas namun pemandangan sangat indah. Bila cuaca bagus kita dapat menyaksikan puncak Gunung Gede dan Pangrango dengan sangat jelas. Lereng-lereng Gunung Salak sangat indah sekali, banyak ditumbuhi pohon-pohon besar dan lebat. Kita mulai memasuki kawasan hutan tropis. Sekitar 1 jam  perjalanan jalur masih agak landai melewati jalan air yang sempit dan licin. Di beberapa tempat banyak ditumbuhi pohon pisang dan pandan.

Jalur mulai menanjak curam melewati tanah yang lunak sehingga sangat licin, di musim penghujan jalur ini sangat licin sekali dan banyak terdapat pacet. Di sisi jalur juga sering kita jumpai pohon pandan dengan daun yang berduri tajam menghalangi jalur. Pendaki tidak akan menemukan tempat yang cukup luas dan kering untuk mendirikan tenda. Sekitar 3 hingga 4 jam perjalanan kita akan sampai di sebuah makam Pangeran Santri. Di sekitar makam keramat ini terdapat mushola dan sebuah pondok. Di belakang pondok terdapat bak penampungan air yang berasal dari pipa saluran air.

Dari makam Pangeran Santri ini jalur semakin curam melewati akar-akar pohon dan tanah, masih diperlukan waktu sekitar 2 jam perjalanan untuk menuju puncak. Di beberapa tempat kita harus melintasi batu-batu besar yang licin sehingga harus berhati-hati karena di samping kita adalah jurang. Kadangkala kita harus melewati akar-akar pohon yang tertutup lumut dan sedikit tanah, sehingga seringkali kaki dapat berhati-hati untuk tetap menginjak akar, karena bila menginjak tanah akan kejeblos ke dalam celah-celah akar. Rombongan monyet kadangkala melintas di atas pohon, burung-burung langkapun seringkali melintas di atas kita.

Selanjutnya kita akan sampai di pertemuan jalur yang berasal dari Cangkuang, tepatnya di shelter VII. Dari Shelter VII jalur sudah mulai agak landai melewati akar-akar pohon. Sekitar 10 menit kemudian kita akan sampai di puncak Gunung Salak I. Di puncak gunung Salak I ini terdapat makam Embah Gunung Salak yang nama aslinya Raden K.H. Moh. Hasan Bin Raden K.H. Bahyudin Braja Kusumah. Tidak jauh dari makam Embah Gunung Salak, terdapat makam kuno yang lain, yakni makam Raden Tubagus Yusup Maulana Bin Seh Sarip Hidayatullah. Di puncak gunung Salak 1 ini juga terdapat sebuah pondok yang sering digunakan oleh para pejiarah untuk menginap. Terdapat juga tanah datar terbuka yang cukup luas sehingga beberapa tenda dapat didirikan.

1 Cicurug Bus Jurusan Jakarta – Sukabumi
2 Wana Wisata Curug Pilung, Ds.GiriJaya, Kec. Cidahu (Kompleks Makam Eyang Santri) Carter Angkot Rp.70.000,-  / Ojeg Rp.15.000,- dari Pasar Cicurug
3 Pertapaan Eyang Santri
4 Perkebunan Damar
5 Hutan
6 Makam Pangeran Santri Pertemuan dengan Jalur Girijaya
7 Shelter VII Pertemuan dengan Jalur Cidahu
8 Puncak Gn. Salak 1
JALUR GIRI JAYA ( CISAAT – CICURUG )

Untuk menuju ke desa Girijaya dari Jakarta naik bus (kereta) jurusan Sukabumi turun di Cicurug, kemudian disambung dengan menggunakan mobil angkot ke Desa Giri Jaya, Kecamatan Cidahu, Kabupaten Sukabumi yang hanya ada di pagi hari, atau mencarter mobil angkot dengan tarif sekitar Rp.70.000,-. Dapat juga di tempuh dengan menggunakan kendaraan ojeg yang ongkosnya berkisar Rp.15.000,- dan bila ingin berjalan kaki dapat memakan waktu sekitar 3,5 jam.

Pendakian di mulai dari gapura pintu masuk, menyusuri jalan berbatu. Di kiri kanan terdapat perkebunan, persawahan, dan pemukiman penduduk.  Di sebelah kiri jalur terdapat sungai kecil yang sangat jernih, di sinilah pendaki harus mempersiapkan air untuk perjalanan karena di sepanjang perjalanan tidak terdapat mata air. Di depan mata kita nampak puncak gunung Salak dengan sangat anggunnya.

Dengan menyusuri punggungan bukit yang ditumbuhi semak-semak diselingi pohon jenis paku-pakuan kita bisa memandang lereng punggung gunung salak lainnya yang menjadi jalur Girijaya melalui Wana Wisata Curug Pilung. Dari kejauhan nampak pondok Irwan yang jauh dari pemukiman penduduk ditengah-tengah perkebunan damar. Tampak juga bangunan tembok berwarna putih yang kokon menjadi tempat bertapa Eyang Santri. Dibelakangnya tampak pula punggungan bukit yang membentuk jalur Cangkuang, Javana Spa nampak dari kejauhan berada ditengah-tengah rerimbunan kehijauan hutan tropis di lereng Gn. Salak.

Setelah berjalan sekitar 2 jam kita mulai memasuki kawasan yang ditumbuhi pohon-pohon besar. Beberapa pohon telah ditebangi sehingga apabila pohon-pohon besar di punggungan gunung ini habis dikawatirkan jalur pendakian ini akan menjadi terbuka dan panas. Selanjutnya kita melintasi kawasan hutan jalur agak sempit dan licin terutana di musim hujan. Jalur pendakian seringkali tertutup oleh daun-daun yang berguguran, sehingga tanah apalagi bekas tapak kaki kadangkala tidak terlihat. Untuk itu sebaiknya melakukan pendakian di siang hari, begitu juga untuk turun gunung sebaiknya dilakukan di siang hari.

Sekitar 3 jam perjalanan kita akan sampai di makam Kanjeng Pangeran Santri. Di sekitar kompleks Makam Keramat ini terdapat bangunan pondok untuk para pejiarah, juga terdapat Mushola dan bak penampungan air untuk keperluan sembahyang, masak, mandi, terdapat juga sebuah WC sederhana.

Dari makam Pangeran Santri ini jalur semakin curam melewati akar-akar pohon dan tanah, dengan menempuh waktu sekitar 2 jam perjalanan kita akan sampai di pertemuan jalur yang berasal dari Cangkuang, tepatnya di shelter VII. Di beberapa tempat kita harus melintasi batu-batu besar yang licin sehingga harus berhati-hati karena di samping kita adalah jurang. Kadangkala kita harus melewati akar-akar pohon yang tertutup lumut dan sedikit tanah, sehingga  seringkali kaki dapat berhati-hati untuk tetap menginjak akar, karena bila menginjak tanah akan kejeblos ke dalam celah-celah akar. Rombongan monyet kadangkala melintas di atas pohon, burung-burung langkapun seringkali melintas di atas kita.

Dari Shelter VII jalur sudah mulai agak landai melewati akar-akar pohon. Sekitar 10 menit kemudian kita akan sampai di puncak Gunung Salak I. Di puncak gunung Salak I ini terdapat makam Embah Gunung Salak yang nama aslinya Raden K.H. Moh. Hasan Bin Raden K.H. Bahyudin Braja Kusumah. Tidak jauh dari makam Embah Gunung Salak, terdapat makam kuno yang lain, yakni makam Raden Tubagus Yusup Maulana Bin Seh Sarip Hidayatullah.

1 Cicurug Bus Jurusan Jakarta – Sukabumi
3 Desa Giri Jaya, Kecamatan Cidahu Carter Angkot Rp.70.000,-  / Ojeg Rp.15.000,- dari Pasar Cicurug
4 Gapura pintu masuk Gn. Salak
5 Kebun dan Persawahan Terus ikuti punggungan gunung
6 Hutan
7 Makam Pangeran Santri Pertemuan Jalur Kompleks makam Girijaya / Curug Pilung
8 Shelter VII Pertemuan Jalur dari Cidahu
9 Puncak Gunung Salak 1

KUTAJAYA / CIMELATI

Jalur Kutajaya atau Cimelati adalah jalur pendakian ke puncak gunung Salak yang paling pendek dan paling cepat, namun di  sepanjang jalur kita akan sulit menemukan sumber air, sehingga air bersih harus dipersiapkan sejak dari bawah. Untuk menuju Kutajaya dari Bogor kita naik mobil ke jurusan Sukabumi turun di Cicurug atau Cimelati. Cicurug adalah kota kecamatan yang masuk ke wilayah kabupaten Sukabumi, segala perlengkapan pendakian harus dipersiapkan di sini. Dari pasar Cicurug yang juga merangkap terminal kita dapat mencarter mobil ke Kutajaya dengan tarip sekitar Rp.70.000,- atau naik ojeg dengan tarip sekitar Rp.15.000,- Kendaraan umum hanya ada di pagi hari, itupun dalam jumlah sangat terbatas.

Perjalanan dimulai dari desa Kutajaya dengan menyusuri ladang dan kebun pertanian penduduk, karena banyaknya percabangan maka perjalanan sebaiknya dilakukan siang hari, usahakan untuk selalu mengikuti punggungan gunung. Bila agak sulit menemukan jalur bisa mengikuti arah ke air terjun.

Terdapat tanda-tanda yang jelas pada setiap Pos, namun tanda-tanda penunjuk arah menuju puncak sangat jarang, untuk itu terdapat beberapa petunjuk yang dapat digunakan yaitu berupa tali-tali rafia. Di sepanjang jalur tidak ada tempat yang cukup luas dan datar untuk membuka tenda. Di beberapa Pos terdapat tempat yang cukup untuk mendirikan 1-2 buah tenda ukuran kecil. Jalur ini jarang dilewati pendaki sehingga kadangkala tertutup rumput dan dedaunan.

Setelah melintasi ladang pertanian penduduk, jalur mulai melintasi hutan yang cukup lebat namun tidak terlalu lembab. Selanjutnya akan dijumpai pertigaan dari Kutajaya, air terjun dan menuju puncak. Berjalan menuju ke arah puncak sekitar beberapa ratus meter akan dijumpai pos 3. Jalur terus menanjak melintasi hutan-hutan yang cukup lebat. Di pos 4 kita akan menemukan percabangan lagi. Di sini terdapat pipa saluran air, jangan mengikuti pipa saluran air, baik yang ke atas (kiri) maupun ke bawah (kanan). Yang lebih penting lagi jangan merusak pipa saluran air untuk memperoleh air minum.

Setelah melewati pos 4 jalur kelihatan cukup jelas dan tidak banyak percabangan lagi. Dengan berjalan menempuh sekitar 1 jam akan sampai di Pos 5. Jalur semakin menanjak melintasi hutan lebat dan kadangkala kita harus melintasi akar-akar pohon. Sepanjang jalur kutajaya ini pemandangan monoton hanya berupa hutan-hutan, namun kita kadangkala akan melihat satwa-satwa seperti aneka jenis burung, juga suara-suara monyet, bahkan seringkali rombongan monyet melintasi jalur ini.

Untuk menuju Pos 6 diperlukan waktu sekitar 1 jam perjalanan. Di pos 6 terdapat tanah datar yang cukup untuk mendirikan 1 buah tenda. Masih diperlukan lagi waktu sekitar 1 jam perjalanan untuk menuju puncak gunung Salak 1. Masih dalam suasa hutan yang semakin lebat dan disertai tiupan angin yang semakin kencang, lintasan kadang berupa batu besar ketika hendak mencapai puncak. Muncul tepat di samping makam Mbah Gunung Salak, maka sampailah kita di puncak Gunung Salak 1 dengan ketinggian 2.211 mdpl.

1 Cicurug / Cimelati Bus Jakarta – Sukabumi
2 Kutajaya Carter Angkot Rp.70.000,-  / Ojeg Rp.15.000,- dari Pasar Cicurug
3 Ladang Sayuran
4 Pertigaan Kutajaya – Air Terjun – Puncak
5 Pos 3
6 Pos 4 Terdapat persimpangan empat dan pipa air, cukup luas untuk 2-3 tenda
7 Pos 5
8 Pos 6
9 Puncak Muncul tepat disamping makam Mbah Gunung Salak
PASIR RENGIT

Jalur pendakian dari Pasir Rengit, Cibatok ini untuk menuju ke Kawah Ratu medannya menanjak dan berbatu dengan air terjun Pasir Reungit di awal pendakian. Untuk menuju puncak gunung Salak 1 jalur ini merupakan jalur terpanjang karena harus memutar dan melintasi kawah ratu. Di rute ini bisa di jumpai dua kawah berukuran kecil, yakni kawah Monyet dan kawah Anjing. Pada musim hujan beberapa bagian medannya berubah menjadi saluran air alami.

Di sekitar desa Pasir Reungit terdapat Bumi Perkemahan dan tiga air yakni, curug Cigamea satu, curug Cigamea dua, dan curug Seribu, yang dapat disinggahi sebelum ke Kawah Ratu. Curug Cigamea tingginya kurang lebih 50 meter,  sedangkan tumpahan airnya melebar. Tidak jauh dari kampung Pasir Reungit, terdapat curug ngumpet. Tumpahan airnya cukup lebar dengan ketinggian sekitar 20 meter, dan menggoda hati untuk mandi dan berenang atau duduk di bebatuan. Curug seribu sangat indah dan menarik, ketinggian curug mencapai 200 meter, dan tumpahan curug cukup besar dan menyatu, sehingga dari jarak jauh sudah terasa percikan airnya yang dingin. Untuk mencapai lokasi curug seribu harus menuruni jalan setapak yang curam sehingga harus ekstra hati-hati.

Untuk menuju ke Pasir Reungit dari stasiun Bogor naik mobil angkot jurusan Bebulak. Kemudian dari terminal Bebulak disambung dengan mobil jurusan Leuwiliang, turun di simpang Cibatok. Dari Cibatok disambung lagi dengan mobil angkutan pedesaan ke Gunung Picung atau Bumi Perkemahan Gunung Bunder yang berakhir di Pasir Reungit.

Perhitungan waktu perjalan ini adalah dalam keadaan santai, untuk pejiarah dan pendaki yang langsung tancap gas (ngebut) maka dari Girijaya ke puncak cukup perlu waktu 2-3 jam, sedangkan dari Cangkuang cukup waktu 4-5 jam. Kondisi cuaca dan jalur dapat berubah setiap saat, mata air di makam eyang santri kadang tidak mengalir dari atas tersumbat daun. Pondok- pondok setiap saat makin bertambah rusak. Pada musim hujan waktu tempuh bertambah lama karena medan menjadi becek, licin, dan tergenang air seperti rawa. Angin kencang sering bertiup menggoyang pohon dan tanah tempat berpijak. Sebaiknya mendaki di musim kemarau dan di siang hari. Di puncak dan sekitarnya kadang kala muncul rombongan monyet. (SUMBER : MAPALA KRAKATAU CILEGON BANTEN)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s