GUNUNG SLAMET ( 3428 mdpl )

Posted: April 14, 2010 in jalur akses gunung

Menjejak Gelombang Segoro Wedi



Secara administrasi gunung yang bercurah hujan tinggi di Indonesia ini terletak di Wilayah 5 kabupaten yaitu kabupaten Banyumas, Purbalingga, Pemalang, Tegal, dan Brebes. Hal inilah yang membuat Gunung Slamet menjadi gunung terbesar sekaligus gunung tertinggi ke dua setelah gunung Semeru ( 3676 mdpl ) di Jawa.

Sejak tahun 1948 hingga tahun 1969 gunung ini meletus sebanyak 12 kali, yang menyebabkan pada bagian kepundan mengalami perubahan yang sangat signifikan.

AKSES KE SANA

Untuk menuju puncak Gunung Slamet dapat ditempuh melalui 3 jalur dengan medan yang bervariasi. Jalur barat dapat dimulai dari Kaliwades, jalur Selatan dapat ditempuh dari daerah Wisata Batu Raden dan jalur timur, yang merupakan jalur yang sering ditempuh oleh para pendaki, melewati Bambangan.

JALUR BARAT

BUMIAYU – PANGASINAN – KALIWADAS

Kota kecamatan Bumiayu merupakan daerah strategis yang dapat ditempuh dari purwokerto selama 1 jam atau dari arah barat yakni Cirebon selama 2 jam. Setiba di Bumiayu, perjalanan dilanjutkan menuju Pangasinan dengan menggunakan Angkutan Pedesaan jenis Colt yang memakan waktu 2 jam. Setiba di pasar Pangasinan, perjalanan dilanjutkan menuju kaliwadas dengan menggunakan Jeep Hardtop atau menggunakan angkutan umum jenis kendaraan terbuka yang beroperasi hingga pukul 18.00.

PENDAKIAN

KALIWADAS – PONDOK GROWONG

Kaliwadas merupakan sebuah dusun yang berketinggian 1850 mdpl dan masuk wilayah Desa Dawehan, Kecamatan Sirampog, Kabupaten Brebes, atau tepatnya berada pada barat daya lereng Gunung Slamet . warga di daerah ini mayoritas beragama Islam dan bermata pencaharian sebagai petani sayur. Pendakian dapat menyiapkan segala perbekalan dan perizinan dari Kaliwadas ini. Kira – kira 300 m selepas jalan desa, pendakian diarahkan menuju jalan setapak.

Satu jam kemudian pendaki akan melewati Tuk Suci yang oleh penduduk setempat diartikan sebagai mata air suci. Di Tuk Suci ini terdapat aliran yang dibendung, yang berfungsi sebagai pengairan desa di bawahnya, Selepas Tuk Suci, medan mulai menanjak menembus lorong – lorong tumbuhan Bambu yang berukuran kecil. Penduduk sekitar menyebutnya Pringgodani. Enam puluh ( 60 ) menit kemudian pendaki akan tiba di pondok Growong.

PONDOK GROWONG – TAMAN WLINGI

Pondok Growong merupakan tempat yang cocok untuk mendirikan tenda. Di sekitar area ini banyak ditemukan pohon besar yang dibawahnya terdapat lubang berukuran cukup besar. Selepas pondok Growong lintasan relative datar sampai pada sebuah jembatan kecil yang bernama Taman Wlingi, yang berada di ketinggian 1953 mdpl. Di daerah ini terdapat persimpangan, lintasan yang lurus dan lebar menuju ke Sumur Penganten. Berjarak 500 m dari area terdapat  sumber air, yang juga merupakan sebuah tempat keramat di mana banyak peziarah yang dating untuk meminta berkah.

TAMAN WLINGI – PLAWANGAN

Jalur ke kiri merupakan lintasan yang menuju ke puncak. Keadaan lintasan semakin menanjak. Di sepanjang lintasan mulai banyak dijumpai pohon tumbang dan pohon penyengat. Lintasan kadang tertutup oleh semak belukar sehingga pendaki harus waspada agar tidak tersesat. Lintasan mulai kembalimelebar ketika pendaki melewati persimpang Igir Manis yang berada di ketinggian 2600 mdpl. Di sekitar area ini akan didapati tetumbuhan Adelweiss dan tetumbuhan Arbei. Setelah itu pendaki akan sampai di Igir Tjowek yang berada di ketinggian 2750 mdpl. Daerah ini masuk kawasan Gunung Malang. Di sini terjadi pertemuan jalur ini dengan jalur Baturaden. Beberapa meter kemudian barulah pendaki tiba di Plawangan.

PLAWANGAN – PUNCAK SLAMET

Plawangan merupakan sebuah tanah yang cukup datar di daerah terbuka, sekaligus merupakan batas vegetasi. Untuk menuju puncak dibutuhkan waktu kira – kira 2 jam. Pendaki dapat berangkat pagi agar dapat menikmati keadaan puncak dan sekitarnya dalam keadaan cuaca cerah. Selepas plawangan lintasan semakin tajam hingga mencapai sudut pendakin 60 derajat Selanjutnya keadaan lintasan semakin parah dengan meden babatuan Vulkanik yang mudah longsor.

Bau belerang terasa menyengat dari kawah ketika pendaki tiba di puncak bayangan. Setiba di daerah ini, pendaki tinggal melipir pada gigir kawah menuju arah timur. Setelah melewati Tugu Surono yang berupa tumpukan batu, pendaki akan sampai di puncak tertinggi gunung Slamet yang ditandai dengan patok Triangulasi dan tower. T Dulu, tempat ini juga digunakan sebagai pemantauan aktivitas gunung api ini.

Di puncak tertinggi kedua se – jawa ini pendaki dapat menyaksikan pemandangan pada arah timur. Tampak beberapa puncak seperti Gunung Sumbing, Sundoro, merbabu, Merapi dan Puncak Ciremai di daerah barat. Semuanya berdiri kokoh seakan – akan menjadi pasak bumi Pulau Jawa.

JALUR TIMUR

PERWOKERTO – PURBALINGGA – BAMBANGAN

Dari terminal Purwokerto pendaki dapat naik bus mini jurusan Pemalang via Purbalingga. Kira – kira 45 menit setelah Purbalingga pendaki harus turun ditengah perjalanan yaitu di kecamayan Bobot sari atau tepatnya di pertigaan Serayu. Setelah itu, perjalanan dilanjutkan dengan naik Angkutan Pedesaan yang tersedia atau naik truk kearah Meratin. Setiba di Meratin perjalanan dilanjutkan menuju bambangan dengan berjalan kaki, yang kira – kira membutuhkan waktu 1 jam.

PENDAKIAN : BAMBANGAN – POS PAYUNG

Route Bambangan merupakan route terpendek dibandingkan route Batu Raden dan Kali Wades. Didusun yang berketinggian 1279 mdpl ini para pendaki dapat memeriksa kembali perlengkapannya dan mengurus segala administrasi pendakian. Setelah itu pendakian dimulai. Pertama – tama menuju pos Payung dengan keadaan medan terjal dengan arah belok kanan. Pendaki akan melewati lading penduduk selama 1 jam.

POS PAYUNG – PONDOK WALANG

Pos Payung merupakan pos pendakian yang menyerupai paying raksasa dan masih berada di tengah – tengah perkebunan penduduk. Selepas pos Payung pendakian dilanjutkan menuju pondok Walang dengan jalur yang sangat licin dan terjal ditengah – tengah lingkungan hutan hujan tropis, selama kuranglebih 2 jam.

PONDOK WALANG – PONDOK CEMORO

Selepas pondok Walang, medan masih seperti  sebelumnya, jalur masih tetap menanjak di tengah panorama hutan yang sangat lebat dan indah, selama kira – kira 2 jam.

PONDOK CEMORO – SAMARANTHU

Sebagaimana namanya, pondok Cemoro dikelilingi oleh pohon cemara yang diselimuti oleh lumut, Selepas pondok Cemoro pendakian dilanjutkan menuju pos Samaranthu, selama kira – kira 2 jam dengan jalur yang tetap menanjak dan hutan yang lebat.

SAMARANTHU – PLAWANGAN

Samaranthu merupakan pos ke 4. Kira – kira 15 menit dari pos ini terdapat mata air bersih. Selepas Samaranthu, medan mulai terbuka dengan vegetasi padang rumput. Pendakian akan melewati sanghiang Rangkah yang merupakan semak – semak yang asri dengan Adelweiss di sekelilingnya, dan sesekali mendapati buah Arbei di tengah – tengah pohon yang menghalangi lintasan pegunungan. Pendaki juga akan melewati Sanghiang jampang yang sangat indah untuk melihat terbitnya matahari. Kira – kira 30 menit kemudian pendaki akan tiba di Plawangan.

PLAWANGAN – PUNCAK SLAMET

Plawangan ( Lawang – pintu ) merupakan pintu menuju puncak Slamet. Dari tempat ini pendaki akan dapat menikmati panorama alam yang membentang luas di arah timur. Selepas Plawangan lintasan semakin menarik sekaligus menantang, selain pasir dan bebatuan sedimentasi lahar yang mudah longsor pada sepanjang lintasan, di kanan kiri terdapat jurang dan tidak ada satu pohon pun yang dapat digunakan sebagai pegangan. Didaerah ini sering terjadi badai gunung, oleh karena itu pendaki disarankan untuk mendaki di pagi hari.

Dari Plawangan sampai di puncak dibutuhkan waktu 30 – 60 menit. Dari sini pendaki dapat melihat puncak Slamet yang begitu besar dan hamparan kaldera yang sangat luas dan menakjubkan, yang biasa disebut dengan Segoro Wedi.

JALUR SELATAN

PURWOKERTO – BATU RADEN

Jalanan aspal mulus berliku Purwokerto – Batu Raden sepanjang 15 Km arah Utara dapat ditempuh selama 30 menit dengan menggunakan Angkutan Pedesaan dari Purwokerto.

BATU RADEN – POS I

Batu Raden yang merupakan daerah wisata yang terkenal dengan Pancuran Telu dan Pitu ini berada di ketinggian 760 mdpl. Pancuran tersebut merupakan aliran mata air panas yang mengandung belerang, Jalur ini merupakan jalur tersulit dan jarang dilalui pendaki. Selepas pal Taman Wisata Batu Raden, lintasan berbelok ke kanan dan menurun. Dalam perjalanan menuju pos I banyak cabang lintasan, yang merupakan jalan tikus yang banyak dibuat oleh penduduk setempat. Di tengah perjalanan pendaki akan melewati sebuah sungai. Setelah itu lintasan kembali datar dengan jurang yang menganga pada sisi kanan lintasan. Untuk sampai di pos I dibutuhkan waktu selama 3 jam.

POS I – POS II

Selepas pos I lintasan mulai menanjak dengan sajian hutan yang rimbun dan asri, selama 2 jam.

POS II  – POS III

Untuk sampai di pos III dibutuhkan waktu selama 3 jam dengan lintasan yang tidak begitu menanjak.

POS III – POS IV

Vegetasi di pos III masih dalam kungkungan hutan hujan Tropis. Selepas itu pendaki akan melipir pada sebuah punggungan tipis yang berada di ketinggian 1664 mdpl. Daerah tersebut bernama Igir Lelangar.

POS IV – PUNCAK SLAMET

Selepas pos IV, tepatnya di puncak Gunung Malang, akan ditemui persimpangan dengan jalur Kaliwades. Kemudian perjalanan dilanjutkan menuju ke Plawangan, lalu berbelok ke kanan menuju puncak Slamet.

GUNUNG SUMBING ( 3371 mdpl )

NUANSA KALDERA BERPASIR

Gunung Sumbing secara administrasi masuk ke dalam wilayah kabupaten Wonosobo. Gunung ini adalah yang tertinggi kedua di Jawa Tengah setelah Gunung Slamet. Bentuk Gunung Sumbing yang berketinggian 3371 mdpl ini serpadengan Gunung Sundoro di sebelah yang dipisahkan oleh jalan raya penghubung Kota Temanggung dan Wonosobo. Konon kedua gunung ini berasal dari sumber yang sama sebelum akhirnya terjadi erupsi yang hebat.

AKSES KE SANA

Untuk mendaki kedua gunung ini dapat ditempuh melalui 2 jalur pendakian, yaitu dari pos Garung dan dari pos Cepit, Kedua route ini memiliki medan yang berbeda.

JALUR I

MAGELANG – TEMANGGUNG – GARUNG

Selain dari Magelang, Garung juga bias ditempuh dari arah barat, yaitu Wonosobo. Dari magelang pendaki dapat naik bus jurusan wonosobo via Temanggung. Selepas dari Temanggung, jalan beraspal mulai menanjak dan berliku tanda memasuki daerah parakan. Di sebelah kiri terlihat Gunung Sumbing berdiri gagah, dengan didampingi Gunung Sundoro di sebelah kanannya. Ketika jalan aspal sampai pada puncak tanjakan dan hamper menurun kembali, pada sisi kiri terdapat sebuah gapura Dusun Garung, Distrik Kalikajar. Daerah ini masuk wilayah kabupaten Wonosobo. Dari gapura tersebut perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki menuju pos pendakian Desa Garung yang memakan waktu 1 jam. Jalanan cukup landai dan lebar. Di garung terdapat sebuah pos pendakian Bapak Hubroni dan juga terdapat base Stick PALA yang dapat membantu para pendaki mendapatkan informasi dan pertolongan.

Base camp yang terletak di Utara lereng Sumbing sangat ramai pada hari Jumat dan Sabtu. Jarak tempuh dari base camp menuju ke puncak adalah 7 km dengan tempuh 6 – 8 jam perjalanan. Dari jarak dan waktu tempuh tersebut dapat disimpulkan bahwa keadaan medan sangatlah berat dan menanjak.

PENDAKIAN

ROUTE LAMA

Kira – kira 50 m selepas base camp terdapat pertigaan masjid. Jalur ke kiri merupakan jalur lama. Pada jalur ini pendaki akan melewati ladang penduduk yang ditanami tanaman khas dataran tinggi sepanjang lebih dari 3 km. pada kilo meter ke 4 pendaki akan memasuki kawasan hutan Pinus selama 1 jam perjalanan, sedangkan pada kilo meter ke 5 lintasan 500 m pendaki sampai di bukit pertama bernama Bukit Genus dan setelah 500 m lagi sampai di bukit kedua yang bernama Bukit Sedlupak. Selanjutnya pendaki tiba di base camp Pasar Setan yang merupakan sebuah tempat pertemuan dengan jalur baru.

Pendaki dianjurkan menggunakan route baru. Karena route lama telah rusak dan sangat berbahaya, apalagi di waktu hujan.

ROUTE BARU

GARUNG – POS II

Selepas base camp Garung pendaki akan langsung di “ hajar “ oleh tanjakan – tanjakan yang curam selama 2 jam, meskipun masih di dalam perkebunan penduduk. Selepas menyeberang Sungai Kedung, Pendaki akan memasuki vegetasi hutan Pinus. Kira – kira 30 menit kemudian pendaki akan tiba di pos II ( GATAKAN ). Pos ini berada di sebelah kanan lintasan dan di tengah hutan Pinus yang berada di ketinggian 2240 mdpl. Jika pendaki turun ke sisi kanan, maka akan mendapati mata air musiman. Mata air ini adalah mata air terakhir yang akan didapat.

POS II – PASAR SETAN

Lintasan semakin menanjak selepas pos II. Bahkan jika hujan mengguyur, para pendaki akan menempuhnya dengan setengah merangkak demi menuju Pasar Setan. Kira – kira 30 menit kemudian pendaki akan memasuki batas vegetasi padang ilalang. Lama waktu tempuh untuk sampai di Pasar Setan bervariasi, antara 1 – 2 jam.

PASAR SETAN – PUNCAK

Pasar  Setan merupakan tempat yang cocok untuk mendirikan tenda. Daerah ini masih masuk wilayah kilo meter ke 6. Jika hari cerah, pendaki dapat menyaksikan kokohnya Gunung Sundoro yang menancap di atas permukaan bumi dengan dikelilingi daerah – daerah perkampungan yang tampak berserakan.

Pada pagi atau dini hari, pendaki biasanya mulai melakukan Summit attack 500 m kemudian lintasan menanjak dan berbatu, menandakan pendaki tiba di Pasar watu, dan 500 m kemudian pendaki akan tiba di sebuah area di mana sebuah batu besar berbentuk box. Daerah yang bernama Watu Kotak ini juga kondusif bagi para pendaki karena dapat digunakan sebagai area perlindungan dari terpaan hujan dan badai. Selepas Watu Kotak, Lintasan setapak tetap menanjak selama 1 jam. Pendaki akan tiba di bibir kawah yang beraroma khas belerang. Dari bibir kawah, pendaki dapat menyaksikan kaldera yang bergaris tengah 1 km, dengan kedalaman 100 m. Kaldera tersebut dipagari oleh beberapa puncak yang runcing. Puncak Rajawali 9 3371 mdpl ) adalah yang tertinggi. Untuk menuju Kaldera, pendaki harus menelusuri lintasan menuju ke puncak tertinggi tersebut.

Kaldera Gunung Sumbing merupakan lautan pasir. Banyak terdapat kawah kecil berasap belerang di sekelilingnya dan terdapat goa berukuran kecil. Goa yang terbesar bernama Goa Jugil. Selain itu, pendaki juga akan mendapati lokasi kuburan Ki Ageng Mangukuhan, seorang tokoh yang selalu diziarahi penduduk setempat sebanyak 3 kali dalam setahun, khususnya pada Bulan Suro/Muharram.

JALUR II

MAGELANG – TEMANGGUNG – CEPIT

Dari Magelang, tepatnya di Kecamatan Secang, jalan membelok ke kiri menuju ke Temanggung. Dari Temanggung, tepatnya di Kecamatan Parakan, perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan Angkutan Pedesaan atau Pick Up ( kendaraan terbuka ) menuju Cepit yang berjarak 7 km kea rah timur lereng Sumbing. Perjalanan ke sana cukup lancer meskipun berkelok dan menanjak. Sesampainya di Cepit, pendaki dapat merasakan sejuknya hawa pegunungan.

PENDAKIAN

CEPIT – BATU LAWANG

Base camp Cepit terletak di wilayah Desa Pagar Gunung, kecamatan Bulu, Kabupaten Temanggung. Penghasilan utama daerah ini adalah tembakau, sebagai tanaman yang cocok pada dataran tinggi. Pada daerah Cepit ini pula pendaki dapat menemukan anak – anak kecil berambut gimbal yang merupakan cirri khas daerah ini. Rambut gimbal tersebut dipercaya dapat mencegah anak – anak warga dari gangguan jin penunggu daerah itu.

Pendaki diharuskan membawa air dari Cepit, karena selama 6 – 8 jam pendakian sampai di puncak tidak dapat ditemui mata air. Sebelum mendaki, seperti biasanya pendaki dianjurkan mematuhi larangan – larangan yang telah menjadi kepercayaan dan kesepakatan warga Dusun Cepit seperti tidak membuang sampah sembarangan, tidak banyak mengeluh, tidak menebang pohon, dan lain – lain.

Selama 1 jam pada awal pendakian, lintasan melalui perkebunan penduduk yang menanjak. Setelah itu pendaki akan memasuki kawasan vegetasi hutan Pinus selama 2 jam dan selanjutnya memasuki padang ilalang yang semakin menanjak. Di daerah ini, pendaki akan mulai memasuki kawasan berbatu yang bernama Watu kasur. Kira – kira 30 menit kemudian pendaki akan tiba di pos pendakian batu Lawang.

BATU LAWANG – PUNCAK

Batu lawang merupakan dataran yang cukup terbuka. Perjalanan dari camp ini menuju ke puncak membutuhkan waktu sekitar 1 jam, dengan lintasan yang berbatu pada punggungan tipis. Menjelang sampai di puncak, bau khas belerang mulai menyengat, suatu pertanda pendaki mulai menjejakkan kaki di bibir kawah. Seterusnya pendaki dapat melanjutkan perjalanan menuju puncak tertinggi ( puncak Rajawali )

GUNUNG SUNDORO ( 3150 mdpl )

Pesona Gerbang Adelweiss

Gunung berbentuk Staro tua ini melakukan erupsi terakhir pada tahun 1971 dan hingga kini dapur magma dan kepundannya tidak beraktivitas kembali. Di sisi gunung ini terdapat Gunung Sumbing yang disinyalir berasal dari satu sumber dengan Gunung Sundoro ini sebelum terjadi erupsi yang hebat.

Kira – kira 10 tahun terakhir gunung ini telah mengalami eksloitasi besar – besaran hingga pada taraf yang mengkhawatirkan sebagaimana yang dialami oleh Gunung Sumbing. Berhektar – hektar hutan yang dulunya lebat, kini tinggallah semak dan ladang pertanian.

AKSESE KE SANA

Untuk menuju gunung yang secara administrasi terletak di Kabupaten Wonosobo dan Temanggung ini dapat ditempuh dari dua arah yakni Kledung ( Parakan ) yang merupakan jalur punggungan selatan dan jalur Sigedang, pada punggungan Utara.

JALUR SELATAN

MAGELANG – TEMANGGUNG – KLEDUNG

Pos pendakian selain dapat ditempuh dari atas juga dapat dicapai dari arah barat yakni Wonosobo. Dari magelang, pendaki dapat naik bus jurusan Wonosobo via temanggung, selepas Temanggung, jalan beraspal mulai menanjak dan berliku tanda memasuki daerah Keparakan. Sementara di sebelah kiri terlihat Gunung sumbing gagah dengan didampingi Gunung Sundoro di sebelah kanannya. Ketika jalan aspal hamper sampai pada puncak tanjakan, itu pertanda bahwa pendaki telah tiba di Kledung.

PENDAKIAN

KLEDUNG – POS I SIBAJING

Kledung merupakan titiktemu yang berada pada puncak tertinggi jalan yang menghubungkan Temanggung dan Wonosobo. Pondok pendakian Kledung hanya berjarak 500 mdari jalan raya. Pos pendakian Kledung mengalami titik keramaian pada waktu 1 Muharram. Pada saat seperti ini, pendakian dan ratusan warga sekitar yang sedang mengadakan upacara di puncak dalam rangka Tahun baru Islam campur baur. Di daerah Kledung ini pendaki dapat mempersiapkan segala keperluan termasuk air, yang tidak akan ditemui sepanjang lintasan pendakian. Panjang lintasan menuju puncak adalah 7 km, dengan waktu tempuh antara 6 – 8 jam, tergantung cuaca dan fisik.

Selepas Kledung pendaki akan melewati ladang penduduk dengan bentangan lintasan yang landai. Memang Rute Kledung cenderung aman, namun eksploitasi sepanjang lintasan hutan ini sangatlah terasa sehingga menyebabkan gerah dan panasnya pendakian yang dilakukan pada siang hari. Hal ini akan menguras tenaga dan keringat. Di tengah perjalanan, pendaki akan menjumpai Watu Gede yang dianggap sebagai pintu masuk Gunung Sundoro. Untuk mencapai pos I ( Sibajing ) diperlukan waktu 1 jam.

POS I SIBAJING – POS II CAWANG

Dari pos I menuju pos II ( Gowok ) masih tetap melewati ladang pertanian penduduk yang membuat medan terasa membosankan, selama 1 Jam.

POS II CAWANG – POS III SEROTO

Lintasan pendakian yang sebenarnya mulai terasa ketika lepas dari area pos II, di mana pendaki akan melewati semak – semak kecil dan vegetasi hutan Pinus yang mulai menanjak dengan sudut pendakian yang curam. Untuk sampai di pos III dibutuhkan waktu 2 jam.

POS III SEROTO – PINTU GERBANG ADELWEISS

Pos iii berada di tengah – tengah hutan raya Sundoro,tepatnya di sisi kiri lintasan. Selepas pos III pendaki kembali akan dihadapkan pada lintasan yang menanjak dan melewati sisa – sisa hutan raya Sundoro yang telah terkikis habis baik akibat eksploitasi maupun perubahan alam. Untuk sampai di Pintu Gerbang Adelweiss membutuhkan waktu normal 1,5 jam pendakian.

PINTU GERBANG ADELWEISS – PUNCAK SUNDORO

Setiba di gerbang Adelweiss pendaki akan terkesima dengan pemandangan alam yang terbentang. Daerah in menjadi perbatasan vegetasi antara tropis Sundoro dengan daerah Tundra.

Di sekitar area ini terdapat beberapa tanah datar yang kondusif untuk mendirikan tenda. Rute dari sini menuju puncak merupakan rute terindah sepanjang lintasan pegununganselatan Sundoro. Selama 30 menit perjalanan hingga di puncak,pendaki akan menyaksikan keindahan taman Adelweiss yang terhampar luas. Di puncak terdapat alun – alun berukuran luas dan terdapat 2 tempat unik yakni Segara Banjaran dan Segara Wedi, yang merupakan hamparan padang pasir berukuran luas,Untuk turun menuju kepundan yang telah mati memerlukan waktu sekitar 1 jam. Di sini terdapat endapan air, lebih – lebih di waktu musim hujan, sehingga banyak pendaki menggunakannya untuk keperluan minum dan memasak. Selain itu, puncak Sundoro merupakan tempat yang paling strategis dan indah untuk menyaksikan gunung – gunung yang membentang se – Jawa Tengah.

JALUR UTARA

WONOSOBO – REJOSARI – SIGEDANG

Dari Wonosobo menuju Rejosari yang berjarak 20 km, pendaki dapat menggunakan bus mini. Rejosari terletak di antara jalur Wonosobo dan Pegunungan Dieng, yang menbentang sejauh 50 km. Setiba di Rejosari, perjalanan dilanjutkan menuju Sigedang dengan menggunakan Angkutan Pedesaan.

PENDAKIAN

SIGEDANG – PERKEBUNAN TEH TAMBI

Dusun Sigedang masuk ke dalam wilayah Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo. Waktu tempuh dari Sigedang menuju puncak memakan waktu 5 – 6 jam. Jalur ini lebih pendek dibandingkan jalur Kledung. Selepas menguras perixinan di pos pendakian Sigedang, pendaki dimulai dengan melewati perkebunan the Tambi selama 1 jam. Perkebunan the ini, pendaki akan melewati 3 shelter yang dapat digunakan sebagai tempat peristirahatan.

PERKEBUNAN TEH TAMBI – PUNCAK SUNDORO

Selepas perkebunan the Tambi pendaki akan memasuki hutan raya Sundoro selama 2 jam dengan lintasan yang menanjak dan agak berkerikil. Begitu keluar dari hutan, pendaki akan memasuki vegetasi padang Ilalang yang sangat luas selama 2 jam. Bentangan medan pada Daerah ini tidak kalah curam dengan yang sebelumnya. Di daerah ini sering terjadi kabut atau hujan, tetapi jika cuaca cerah, dari area ini pendaki dapat menyaksikan indahnya kawah – kawah Pegunungan Dieng yang membentang luas di bawah sana.

GUNUNG MERAPI ( 2968  mdpl )

Misteri Gunung Teraktif Sedunia

Pukul 05.00 WIB, !! Juli 1998 Merapi meletus untuk kesekian kalinya dengan diikuti ledakan dan asap hitam yang membumbungsetinggi 300 m dari atas puncaknya. Kira – kira 3 juta meter kubik abu vulkanik dimuntahkan dari kawah dan menyebar hingga 60 km kearah barat. Letusan Merapi selalu diikuti awan panas atau lebih dikenal dengan Wedhus Gembel. Awan ini selalu membawa korban karena suhunya mencapai 3000 Derajat Celcius dan dapat meluluhlantarkan apa saja yang di laluinya. Pada tahun 1994, 66 penduduk tewas dan ratusan rumah lainnya rusak. Ini merupakan bukti keganasannya. Bukti yang paling ganas lagi terjadi pada tahun 1930 di mana letusanya menewaskan 1.300 penduduk. Dari sini dapat disimpulkan bahwa gunung Merapi memang sering meletus sejak ia dilahirkan, yang hingga kini masih banyak menyimpan misteri.

Gunung Merapi terletak 30 km arah utara Kota Yogyakarta. Jika sedang melakukan aktivitas asapnya yang berwarna putih kelabu dan kehitaman tampak mengepul ke atas menyerupaitimbunan bulu domba. Ledakan lava pijar yang menyala – nyala merupakan keunikan tersebdiri untuk diabadikan, ketika dilihat pada malam hari. Gunung ini tetaplah mempesona meski dalam keadaan tenang, sehingga merangsang minat para penggiat alam bebas untuk menggumulinya.

AKSES KE SANA

Untuk menuju puncak gunung ini dapat ditempuh dari 4 arah mata angina yaitu Selo, yang merupakan jalur paling aman, jalur Kinahrejo, jalur Babadan, dan jalur Balerante.

JALUR UTARA

SURAKARTA – BOYOLALI – SELO

Dari Surakarta pendaki dapat menggunakan bus mini jurusan Selo via boyolali, dengan jarak tempuh 75 km. Selepas Boyolali, rute mulai menanjak sampai memasuki Desa Cepogo. Selepas itu, perjalanan tinggal 7 km. Dalam perjalanan menuju Selo, rute yang dilalui berliku, dengan jurang – jurang yang dalam di sebelah kiri dan kanan. Sementara bila pendaki menengadahkan kepala, di sebelah kiri tampak Gunung Merapi yang menjulang tinggi dan Gunung Merbabu di sebelah kanan.Setiba di Desa Selo, pendaki dapat menikmatikesejukan khas alam pedesaan yang berada di ketinggian 1500 mdpl. Desa ini juga merupakan pos pendakian dari selatan Gunung Merbabu. Untuk menuju puncak tertinggi Merapi dibutuhkan waktu 5 – 6 jam perjalanan.

PENDAKIAN

SELO – LENCOH

Setelah mengurus perizinan pendakian di pos polisi Selo, perjalanan dimulai menuju Selo yang terletak 1,5 km di atas Desa Selo. Jalanan berbatu selebar 3 m di kampung – kampong merupakan pemandangan umum yang akan di jumpai. Setiba di pos pendakian Lencoh pendaki dapat menyiapkan segala persiapan pendakian termasuk air, yang tidak akan didapat selama pendakian berlangsung.(sumber : mapala krakatau cilegon banten)

Komentar
  1. vudjo' mengatakan:

    wach mkcie za infonya…
    smoga bermanfaat bagi kita,terutama para pendaki
    wassalam………….!!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s